Foto Kenangan

Foto Kenang-kenangan Foto bersama dengan peserta dan panitia seusai memberikan pelatihan kewartawanan di Masjid Syuhada Yogyakarta, Jumat-Sabtu (11-12/7/2014).

Foto bersama dengan peserta dan panitia seusai memberikan pelatihan kewartawanan di Masjid Syuhada Yogyakarta, Jumat-Sabtu (11-12/7/2014).

Foto bersama dengan peserta dan panitia seusai memberikan pelatihan kewartawanan di Masjid Syuhada Yogyakarta, Jumat-Sabtu (11-12/7/2014).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menulis Itu Mudah

kenangan1Banyak orang memiliki ide untuk menuliskan peristiwa yang ditemui di lingkungannya. Namun mereka sering terbentur pada masalah bagaimana harus memulai sebuah tulisan. Akibatnya, ide-ide tersebut sering hilang dari ingatannya seiring dengan peristiwa-peristiwa baru yang didapatkannya.
Dalam dunia jurnalistik, ada tiga jenis tulisan yang sering digunakan di media massa yaitu berita atau straight news, feature dan opini. Untuk bisa menuliskan ketiga jenis tulisan tersebut pertama, harus memiliki niat untuk bisa menulis. Kedua, harus mendapatkan bimbingan teori dan praktek dari pakarnya.
Berdasarkan pengalaman memberi pelatihan jurnalistik sejak tahun 1994, setelah mendapat pelatihan, tentu yang paling penting adalah berlatih dan terus berlatih. Sebab menulis merupakan sebuah ketrampilan sehingga harus diasah setiap hari. Itulah kunci agar bisa menulis. Melalui latihan yang rutin Anda akan mengatakan ‘Menulis Itu Mudah.’ n

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Yogyakarta Favorit untuk Reuni, Saat Lebaran

Reuni SLG '81 dan SLG '80 di Yogyakarta, Kamis (31/7/2014)

Reuni SLG ’81 dan SLG ’80 di Yogyakarta, Kamis (31/7/2014)

Meskipun sudah bertahun-tahun merantau dan menetap di luar Yogyakarta, namun keinginan untuk kembali dan bertemu dengan kawan-kawan lama di Yogyakarta tampaknya menjadi agenda penting saat mudik. Banyak alumnus perguruan tinggi yang sengaja datang atau mampir di Yogyakarta untuk sekedar bertemu teman-teman lamanya atau reuni kecil-kecilan.

Untuk reuni, Yogyakarta yang memiliki tempat kuliner yang banyak tentu tidak kesulitan mendapatkan tempat pertemuan. Di antaranya, SGPC (sego pecel), warung gudeg, warung sate, lesehan, angkringan, restoran dan lain-lain. Sedang tempatnya pun bisa memilih dari pinggir jalan, hingga ruangan yang ber-AC.

Salah satunya, alumni Jurusan Sosiologi angkatan 1980 dan 1981, Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (Fisipol) UGM Yogyakarta. Mereka bertemu di sebuah restoran di Jalan Kaliurang Yogyakarta, Kamis (31/7/2014).

Pertemuan yang relatif sebentar ini membuat suasana tampak meriah dan segar. Masing-masing teringat masa kuliah dulu dan merasa masih muda. Pertemuan ini sejenak bisa melupakan anak, isteri, suami dan persoalan hidup yang sedang dihadapi.

Topik bahasannya pun banyak sekali. Mulai dari menghadapi dosen killer, liku-liku menyelesaikan kuliah, mengirim surat cinta, kasih yang tak sampai, cinta yang ditolak, model potongan rambut dan banyak kejadian lain yang kini justru menjadi bahan guyonan segar.

“Aku seneng, iso ketemu konco-konco neng Yogya. Opo meneh ono angkatan SLG ’80,” kata Ina Krisdiana, alumni SLG ’81 yang menetap di Jakarta pada reuni di Yogyakarta, Kamis (31/7/2014).

Pertemuan ini pun diabadikan menggunakan ponsel masing-masing kemudian di-share kepada teman-teman yang tidak bisa hadir melalui BBM, Whatapps Messenger, Facebook atau email. “Di belakang tempat pertemuan itu tempat kos-ku dulu,” komentar salah satu teman yang jauh di kota lain melalui BBM.

Pertemuan diakhiri dengan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Foto ini pun langsung di-share ke teman-teman lain yang ada di berbagai kota atau bahkan kawan-kawan yang ada di luar negeri. “Biar mereka pada ngiri untuk reuni ke Yogyakarta,” ujar Ina. N

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gerobag Sapi Semakin Digemari untuk Rekreasi

Gerobag yang ditarik dua ekor sapi sudah tinggal sedikit. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tinggal puluhan gerobag yang tersisa. Sedang bila digabung dengan Jawa Tengah ada sekitar 950 gerobag.

Saat ini ada perkumpulan pemilik gerobag yang diberi nama “Langgeng Sehati.” Perkumpulan ini diketuai Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Salah satu anggotanya milik Haji Latif Munir (40) warga Jejeran, Wonokromo, Kabupaten Bantul, DIY. Gerobag ini merupakan tinggalan orangtuanya, Mashud.

Ketika masih jaya, gerobag sapi ini sebagai alat transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Kini gerobag ini tidak lagi sebagai alat transportasi untuk mengangkut material bahan bangunan, atau hasil panenan di sawah. Karena sudah kalah dengan truk buatan Jepang.

Namun fungsi gerobag sapi sudah berubah menjadi alat transportasi yang menekankan pada rekreasi. Seperti membawa pengantin, anak yang disunat, hajatan dan membawa turis untuk keliling desa wisata.

“Kalau tidak ada order gerobag nganggur di rumah,” kata Munir di sela-sela mengangkut pengantin di Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon, Bantul, DIY, Senin (22/4).

Munir yang juga anggota polisi Polsek Piyungan Bantul ini mengaku senang merawat gerobag peninggalan orangtuanya. Sebab gerobag ini mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi.

Bahkan kalau dinilai dengan uang, dua ekor sapinya saja senilai Rp 47 juta. Sedang bila digabungkan dengan gerobag, gentha enam, dan asesoris lainnya senilai Rp 80 juta.

Untuk merawat kedua sapi, Munir tidak mengalami kesulitan karena di sekitar rumahnya banyak rumput. Setiap ekornya membutuhkan pakan rumput dan dedak yang dinilai seharga Rp 10 ribu.

Semakin jarangnya, gerobag sapi ini memberi keuntungan tersendiri bagi anggota polisi berpangkat Bripka ini. “Setiap pekan, pasti ada dua atau tiga yang menggunakan gerobag saya untuk hajatan. Saya tidak memasang tarif, diberi Rp 100 atau 200 ribu saya tidak protes,” kata Munir bapak satu putri ini.

Namun penghasilan yang paling besar ketika membawa turis keliling desa wisata. Ia mendapat bayaran Rp 700 ribu.

Meskipun setiap hari menggunakan sepatu dalam bekerja sebagai polisi, namun ketika sebagai pilot gerobag (maaf, Bajingan) dirinya tidak mengenakan alas kaki. “Ya biar lebih lincah dibanding dengan menggunakan alas kaki. Bajunya pun hitam dan harus mengenakan iket blangkon,” katanya.

Kemudian ketika dipanggil Bajingan (nama pilot gerobag) pun, Munir tidak marah. Sebab ia memiliki singkatan kata tersebut yaitu //banguning jiwo ngen-ngen pangeran// (bangunnya jiwa selalu ingat kepada Allah SWT) agar selamat dalam perjalanan.

“Kalau yang tidak tahu akan marah dipanggil Bajingan. Tetapi dengan arti seperti itu kata bajingan itu sebetulnya maknanya baik,” ujarnya. N

Gerobag Sapi

Gerobag Sapi

Posted in Uncategorized | 2 Comments

DPRD DIY Dukung Penetapan

YOGYAKARTA — DPRD DI Yogyakarta akhirnya mengeluarkan keputusunnya yang mendukung mekanisme penetapan dalam pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur di provinsi ini. Selain itu, DPRD juga mengusulan dalam rangka pengisian jabatan gubernur dan wagub DIY ke depan, jabatan tersebut otomatis diperuntukkan bagi Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam yang bertahta pada masa tersebut.

Putusan ini diambil dalam rapat paripurna DPRD DIY yang berlangsung Senin (13/12/2010), yang dipimpin Ketua DPRD DIY, Yoeke Indra Agung Laksana. Saat pemukulan palu keputusan itu, seluruh anggota Fraksi Partai Demokrat telah meninggalkan ruang sidang.

Sebelumnya, Fraksi Partai Demokrat dalam sikap fraksinya yang dibacakan pada rapat paripurna itu memang tak jelas menyatakan apakah mendukung penetapan. Sedangkan fraksi-fraksi lainnya di DPRD, seperti FPKS, FPDI, FPG,
FPKB, FPAN, serta fraksi gabung PNPI Raya dalam pernyataan sikapnya jelas mendukung penetapan walau dalam redaksional berbeda.

Contohnya, juru bicara FPKB, Sukamto, hanya menyebutkan fraksinya mendukung penetapan Sultan HB X dan PA IX sebagai gubernur dan wagub, tapi tak menyebutkan apakah untuk sultan-sultan ataupun paku alam-paku alam seterusnya akan langsung ditetapkan menjadi gubernur dan wagub.

FPNPI Raya, melalui juru bicaranya, Edy Susilo, mengatakan bahwa mereka mendukung penepatan dan akan memperjuangkan aspriasi rakyat DIY dalam pembahasan RUUK. Namun disebutkan juga bila dalam pembahasan itu terjadi deadlock soal bagaiamana mekanisme pengisian jabatan gubernur/wagub di DIY, maka fraksi ini memandang perlu dilakukannya referendum untuk menentukan mekanisme terbaik.

Fraksi PKS dengan juru bicara Ahmad Sumiyanto besikap agar pengisian jabatan gubernur/wagub dilakukan dengan menetapkan Sultan HB X dan PA IX. Fraksi ini juga tak memberikan jalan keluar mekanisme apa yang dipakai
untuk memutuskan gubernur dan wagub DIY selanjutnya, apakah dengan langsung menetapkan Sultan dan Paku Alam yang bertahta langsung menjadi gubernur atau tidak.

Fraksi PAN dengan juru bicara Istianah ZA bersikap bahwa mekanisme penetapan adalah pilihan terbaik untuk pengisian jabatan gubernur dan wagub. ”FPAN berpendapat bahwa kepemimpinan yang bersifat turun temurun, sekalipun mungkin dianggap tidak sesuai dengan prinsip demokrasi, harus tetap dianggap konstitusional sesuai pasal 18B UUD 1945 [yang mengakui adanya daerah istimewa di Indonesia],” katanya.

Juru bicara fraksi Partai Golkar, Rani Rumintato, mengatakan fraksinya sudah sejak 13 tahun lalu memperjuangkan mekanisme penetapan dalam pengisian jabatan gubernur dan wagub di DIY. ”Kami tetap konsisten sampai saat ini,” kata Rani.

Begitu juga FPDI dengan juru bicaranya Totok Hedi mengatakan bahwa konsisten dengan sikap awal, yakni mengusulkan agar Sultan HB dan PA ditetapkan jadi gubernur dan wagub.

Apapun sikap FPD ini, Yoeke mengatakan bahwa keputusan DPRD DIY menudung penetapan telah diambil sesuai dengan prosedur tatip dewan. ”Sebelum memutuskan sebagai ketua sidang saya sudah menanyakan kepada peserta sidang dan yang hadir menyatakan setuju mendukung penetapan.
Kalau anggota tak FPD hadir saat itu, mereka dengan sendirinya telah tidak memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan pandangannya secara pribadi,” tuturnya.

Yoeke membenarkan bahwa semua anggota FPD sepertinya telah meningggalkan ruangan sebelum sidang secara keseluruhan selesai. Bahkan seusai pembacaan sikap fraksi, yakni saat sidang ditunda sementara
untuk rapat pimpinan fraksi-fraksi untuk menyusun draf kepurusan, FPD tidak mengirim utusannya — absen. ”Intinya sekarang ini sikap DPRD DIY jelas. Bila ada yang bertanya sikap DPRD adalah mendukung penetapan,” kata dia.

Bagaimana bila sikap ini diabaikan Pemerintah Pusat dan DPR dalam pembahasan RUUK? ”Logikanya DPRD adalah perwujudan dari perwakilan warga DIY. Tentunya tak sangat disayangkan bila sikap ini diabaikan begitu saja untuk membuat perundang-undangan yang berkaitan dengan rakyat DIY,” kata dia. n

Posted in politik | Tagged | Leave a comment

Sultan akan Semakin Populer

JAKARTA–Tokoh senior Golkar, Pinantun Hutasoit, berpendapat, jika “diganggu” , Sri Sultan Hamengkubuwono X yang disebut-sebut bersedia didekati Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk pilpres mendatang, bukannya akan merosot namanya tapi justru akan makin populer.

“Bagaimanapun, perkembangan politik bangsa ini akan tergantung kehendak rakyat. Tapi saya meyakini, kalau Sri Sultan “diganggu” oleh siapa pun berkaitan dengan pencalonannya baik sebagai presiden maupun wapres, justru Sri Sultan diuntungkan, karena dia akan banyak mendapat simpati dari rakyat,” katanya di Jakarta, Senin, menanggapi pernyataan pimpinan DPP Partai Golkar seperti dikutip Republika Newsroom, Senin (26/1).

Ketua DPP Partai Golkar, Burhanuddin Napitupulu, sebelumnya menyatakan, kalau Sultan serius dengan Megawati atau konsisten dengan deklarasinya sebagai capres, maka dia harus menyatakan mundur dari pencalonan presiden Partai Golkar.

Burhanuddin mengatakan, sikap dan langkah Sultan yang bersedia didekati oleh Megawati dan tokoh partai lain untuk meningkatkan daya tawar dan citra dirinya, dinilainya tidak etis.

Burhanuddin Napitupulu menyatakan, pernyataan mundur dari pencalonan presiden Partai Golkar itu penting demi menjaga etika politik.

Pinantun memuji perkembangan sikap politik Sri Sultan mengenai pilpres yang dinilainya lebih maju. Namun ia mengakui adanya semacam hambatan yang menghadangnya, dan menyatakan tak bisa memahami argumentasi pihak-pihak yang menghadangnya tersebut dari sisi demokrasi.

Ia mengingatkan, Sri Sultan sebagaimana ayahandanya, mantan wapres Sri Sultan Hamengkubuwono IX, merupakan tumpuhan banyak rakyat paling tidak di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Ia juga mengingatkan kepada generasi muda Golkar, bahwa Sri Sultan bagaimanapun tetap anggota dan kader Golkar, karena dia sudah berada di sana sejak lahirnya Sekretariat Bersama Golkar yang menjadi cikal bakal lahirnya Golkar dan Partai Golkar sekarang.

“Karena itu saya meyakini, kalau Sri Sultan “diganggu” , justru menjadi “amunisi” tambahan bagi dia, yang akan membuat dia semakin populer,” ujarnya.

Dalam hal ini, mantan anggota dewan penasehat DPP Golkar itu mengingatkan, kasus Akbar Tanjung.

Jika Sri Sultan diperlakukan seperti itu, “Sama dengan kasus Akbar Tanjung, yang hingga sekarang tintanya pun belum kering.”

Ia juga mengingatkan, menjelang pilpres kader Golkar mestinya merapatkan barisan, mendekati tokoh-tokoh senior dan para sesepuhnya yang berpengalaman.

“Bukannya mengeluarkan tanggapan-tanggapan yang berakibat sebaliknya, yang justru bisa menjadi “amunisi” bagi pihak-pihak lainnya,” demikian Pinantun Hutasoit. ant/fif

Posted in politik | Tagged | Leave a comment

Pasar Ngasem akan Jadi Pintu Gerbang Tamansari

YOGYAKARTA — Pasar burung akan dialihkan ke Dongkelan yang menempati lahan seluas dua hektar. Pemindahan pasar burung dibahas  dalam Rapat Koordinasi yang dipimpin Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Jumat (9/1/2009). Sedangkan  Pasar Ngasem akan dibangun menjadi pintu gerbang masuk tempat wisata Tamansari.

Pembangunan pasar Ngasem menjadi tanggung jawab pemerintah Provinsi DIY. ”Konsep pasar burung ke depan nantinya bukan pasar, tetapi kayak tempat rekreasi di kebun karena ruang terbuka. Untuk burung akan ditaruh di sangkar dan digantung-gantung di taman kebun,” kata Hery Zudianto, Walikota Yogyakarta seusai Rakor yang dipimpin Gubernur DIY di Kepatihan Yogyakarta, Jumat (9/1/2009).

Dikatakan Herry Zuhdianto, pembeli akan melihat burung-burung dalam sangkar yang digantung di kebun. Pengunjung akan tertarik dan akan bertanya pemiliknya. Pemerintah Kota Yogyakarta akan menyelesaikan pembangunan pasar burung tahun 2009. Dana pembangunan pasar burung di Dongkelan sekitar Rp 5,5 – 6 miliar.

Sedangkan pembangunan Pasar Ngasem akan didanai Pemerintah Provinsi DIY. Namun Herry Zudianto tidak mengetahui berapa besar dana yang dibutuhkannya. Namun konsep pembangunan Pasar Ngasem akan menjadi pintu masuk ke Tamansari.

”Pasar Ngasem nantinya akan dirubah. Kayak semacam pintu gerbang ke Tamansari. Namun di sana akan tetap mempertahankan pasar tradisonalnya,” kata Herry.

Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X ketika ditanya tentang pembangunan Pasar Ngasem mengatakan menunggu pasar burung Dongkelan selesai dibangun. Kemudian pedagang dipindah ke Dongkelan. ***

Posted in Budaya, Wisata | Tagged | 3 Comments