JAKARTA–Tokoh senior Golkar, Pinantun Hutasoit, berpendapat, jika “diganggu” , Sri Sultan Hamengkubuwono X yang disebut-sebut bersedia didekati Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk pilpres mendatang, bukannya akan merosot namanya tapi justru akan makin populer.
“Bagaimanapun, perkembangan politik bangsa ini akan tergantung kehendak rakyat. Tapi saya meyakini, kalau Sri Sultan “diganggu” oleh siapa pun berkaitan dengan pencalonannya baik sebagai presiden maupun wapres, justru Sri Sultan diuntungkan, karena dia akan banyak mendapat simpati dari rakyat,” katanya di Jakarta, Senin, menanggapi pernyataan pimpinan DPP Partai Golkar seperti dikutip Republika Newsroom, Senin (26/1).
Ketua DPP Partai Golkar, Burhanuddin Napitupulu, sebelumnya menyatakan, kalau Sultan serius dengan Megawati atau konsisten dengan deklarasinya sebagai capres, maka dia harus menyatakan mundur dari pencalonan presiden Partai Golkar.
Burhanuddin mengatakan, sikap dan langkah Sultan yang bersedia didekati oleh Megawati dan tokoh partai lain untuk meningkatkan daya tawar dan citra dirinya, dinilainya tidak etis.
Burhanuddin Napitupulu menyatakan, pernyataan mundur dari pencalonan presiden Partai Golkar itu penting demi menjaga etika politik.
Pinantun memuji perkembangan sikap politik Sri Sultan mengenai pilpres yang dinilainya lebih maju. Namun ia mengakui adanya semacam hambatan yang menghadangnya, dan menyatakan tak bisa memahami argumentasi pihak-pihak yang menghadangnya tersebut dari sisi demokrasi.
Ia mengingatkan, Sri Sultan sebagaimana ayahandanya, mantan wapres Sri Sultan Hamengkubuwono IX, merupakan tumpuhan banyak rakyat paling tidak di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Ia juga mengingatkan kepada generasi muda Golkar, bahwa Sri Sultan bagaimanapun tetap anggota dan kader Golkar, karena dia sudah berada di sana sejak lahirnya Sekretariat Bersama Golkar yang menjadi cikal bakal lahirnya Golkar dan Partai Golkar sekarang.
“Karena itu saya meyakini, kalau Sri Sultan “diganggu” , justru menjadi “amunisi” tambahan bagi dia, yang akan membuat dia semakin populer,” ujarnya.
Dalam hal ini, mantan anggota dewan penasehat DPP Golkar itu mengingatkan, kasus Akbar Tanjung.
Jika Sri Sultan diperlakukan seperti itu, “Sama dengan kasus Akbar Tanjung, yang hingga sekarang tintanya pun belum kering.”
Ia juga mengingatkan, menjelang pilpres kader Golkar mestinya merapatkan barisan, mendekati tokoh-tokoh senior dan para sesepuhnya yang berpengalaman.
“Bukannya mengeluarkan tanggapan-tanggapan yang berakibat sebaliknya, yang justru bisa menjadi “amunisi” bagi pihak-pihak lainnya,” demikian Pinantun Hutasoit. ant/fif
Posted on January 26, 2009
0