Mengisi air enceh (gentong) di Makam Raja-raja Imogiri, Bantul pada Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura atau Muharam merupakan ritual Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Jumat (2/1/2009), ratusan orang, terutama wanita berebut tumpahan air enceh. Mereka membasuh muka, meminum dan mengisi botol dari air tumpahan.
Seorang warga Kedon Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, mBah Suminto bersama rekannya sangat antusias mengambil air tumpahan. Meskipun harus berdesak-desakan, namun tidak menyurutkan niatnya untuk merebut air tumpahan.
”Setiap tahun saya selalu ke sini untuk mengikuti nguras enceh,” kata mBah Suminto seperti dikutip Kedaulatan Rakyat, Sabtu (3/1/2009).
Ketika ditanya untuk apa air tersebut? mBah Suminto mengatakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk sarana pengobatan berbagai penyakit. ”Hanya sebagai sarana saja, sedangkan yang memberikan kesembuhan Allah SWT,” katanya.
Prosesi nguras enceh dimulai dengan doa bersama di sisi barat dan timur. Di sisi barat dipimpin Bupati Jurukunci Yogyakarta, KRT Hastana Nagara dan sisi timur dipimpin Jurukunci Keraton Surakarta, KPH Suryo Nagara.
Usai berdoa dilakukan selamatan sebelum dimulai pengisian enceh. Sedangkan warga yang hadir sibuk berebut nasi uduk dengan takir. Ada empat enceh yang diisi air yaitu Nyai Danumurti, Kyai Danumaya, Kyai Mendung dan Kyai Siyem. ***
Pim Westerkamp
July 29, 2009
Hello Pak Heri,
apakah anda mewawancarai saya bulan februari yang lalu? Saya lihat interview dgn saya di Internet. Ternyata ada kesalahan kecil. Tropenmuseum tidak mempunyai 62.000 object Perak Yogya. Hanya beberapa ratusan. sekitar 350.
Koleksi Indonesia selengkap ialah 62.000.
thanks, see you, Pim Westerkamp, kurator Asia Tenggara Tropenmuseum.
heripurwata
July 30, 2009
Hello juga Pak Pim Westerkamp,
Iya, saya sempat wawancara dengan Anda sebelum presentasi. Jadi wawancaranya di luar di dekat tangga naik mau masuk ruangan presentasi. Mungkin saya salah tangkap informasi tentang koleksi itu. Terima kasih atas koreksinya.
Heri Purwata.