Sendratari Ramayana Prambanan

Posted on July 28, 2008

15


Sendratari Ramayana Tak Lagi di Bulan Purnama

Sendratari Ramayana di Panggung Terbuka Prambanan (OPen Air Theatre) tidak lagi digelar pada bulan purnama saja. Tetapi sudah digelar tiga kali dalam sepekan yaitu Selasa, Kamis dan Sabtu.

”Image masyarakat, Sendratari Ramayana itu masih digelar setiap bulan purnama saja. Dan berlangsung hanya empat kali setiap bulannya,” kata Ir Djoko Sutomo, Kepala Unit Teater dan Pentas PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko kepada Heri Purwata di Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (26/7/2008) lalu.

Padahal pagelaran tiga kali dalam sepekan ini sudah berlangsung kurang lebih delapan tahun yang lalu. Karena itu, Djoko Sutomo mengharapkan agar pertunjukkan Ramayana ini lebih memasyarakat.

Selain waktu pertunjukkan, episode pementasan Ramayana juga telah dibuat dua versi yaitu full story dan episode. Pementasan Ramayana full story hanya berlangsung dalam satu malam sudah selesai. Sedangkan episode, dilaksanakan empat hari berturut-turut setiap bulannya.

Namun para penggemar sendratari banyak yang menonton pada full story. Sebagian besar penontonnya wisatawan manca negara yang terbatas waktu berkunjungnya ke Indonesia. ”Mereka terbatas waktunya, sehingga memilih full story dan hanya satu malam sudah mengetahui secara keseluruhan jalan ceritanya,” katanya.

Namun bagi mereka yang ingin menikmati sendratari Ramayana secara utuh memilih episode. Ini yang sering dipentaskan pada bulan Purnama.

Sebelum menikmati Sendratari Panggung Terbuka yang cukup dingin, penonton bisa menikmati makan malam di Prambanan Resto. Letak restoran yang menyuguhkan aneka masakan Indonesia berdampingan dengan Panggung Terbuka.

”Wisman memilih paket Ramayanan dan Dinner. Mereka menikmati masakan Indonesia terlebih dulu baru menonton Rayamana,” kata Djoko.

Menurut Dwi Murdianto alias Wawik, pengelola Prambanan Resto mengatakan suguhan makanan di restorannya masakan Indonesia yang sudah mendunia. Ia tidak menyediakan masakan Eropa atau yang lainnya. ”Semua Indonesia,” kata Dwi.

Dwi merasa optimis restoran yang dikelolanya cukup laris. Sebab masakan yang disajikan sudah dikenal dunia seperti sate, bakmi, kentang goreng, nasi goreng, dan lain-lain.

Namun untuk bisa makan di restoran ini harus pesan terlebih dahulu. Khususnya, bagi rombongan yang dalam jumlah banyak. Dwi menerapkan tarif makan setiap orangnya Rp 60 ribu. ”Keunggulan restoran ini bisa menikmati makanan sambil melihat Candi Prambanan yang diterangi dengan sinar yang terang,” katanya.

Sendratari Ramayana menceritakan tentang Negeri Mantili yang dipimpin seorang raja bernama Prabu Janaka. Ia mempunyai mempunyai putri cantik berdama Dewi Shinta. Untuk menentukan calon suaminya, Prabu Janaka menggelar lomba. Akhirnya lomba dimenangkan Putra Mahkota Kerajaan Ayodya, Raden Wijaya.

Sementara Prabu Rahwana, Raja Alengkadiraja juga ingin memperistri Dewi Widowati. Setelah melihat Dewi Shinta, Rahwana beranggapan jika Shinta merupakan titisan Dewi Widowati yang selama ini dicari-cari.

Untuk merebut Shinta dari Raden Wijaya, Rahwana membuat jebakan ketika Rama Wijaya, Shinta dan Lesmana berburu di hutan Dandaka. Rahwana mengubah seorang pengikutnya, Kalamarica menjadi seekor kijang kencana.

Rama tertarik pada kijang kencana sehingga meminta Rama untuk mengejarnya. Namun cukup lama Rama tidak kembali, Shinta menjadi cemas sehingga meminta Lesmana untuk menyusulnya.

Namun sebelum menyusul Rama, Lesmana telah ‘mengamankan’ Shinta dengan lingkaran magis. Sehingga orang tidak bisa mendekati Shinta. Rahwana pun tidak berhasil mendekati Shinta karena kekuatan magis.

Untuk mengeluarkan Shinta dari lingkaran magis, Rahwana mengubah dirinya menjadi Brahmana tua. Ia tampak sangat renta dan meminta belas kasihan kepada Shinta.

Melihat Brahmana tua, Shinta timbul iba hatinya sehingga ia keluar dari lingkaran magis untuk memberikan sedekah. Di luar lingkaran inilah Shinta dibawa lari Rahwana ke kerajaan Alengkadiraja.

Hanoman yang diutus untuk mencari Shinta berhasil merebut Shinta dari tangan Rahwana dan membawanya kepada Rama. Namun Rama tidak mau menerima Shinta karena menganggap Shinta telah ternoda selama di Alengka.

Tetapi Shinta membantah telah ternoda dan dibuktikan dengan membakar diri. Karena Shinta masih suci, api tidak mampu membakar tubuh Shinta. Kemudian Rama baru percaya dan mau menerima Shinta. ***

About these ads
Posted in: Budaya